Cara Budidaya Ikan Mas September 2017

Monday, March 6th, 2017 - Budidaya Ikan

Tips dan Cara Budidaya Ikan Mas – Ikan mas ( Cyprinus Carpio Linn ) dalam perdagangan internasional disebut Common Carp atau ikan carper. Ikan mas ini berasal dari China dan Rusia, banyak ditemukan di sungai, danau dan laut hitam. Di Indonesia pertama kali dikenal di daerah Galuh, Ciamis ( Jawa Barat ) pada tahun 1810. Nama lokalnya adalah ikan tombro, ikan masmasan ( Jawa Tengah, Jawa Timur ) ikan mas ( Jawa Barat ) ikan rayo atau ikan ameh ( Sumatra Barat ). Ada banyak jenis ikan mas. Jenis-jenis ikan mas tersebut dikelomokan menjadi dua : ikan mas konsumsi dan ikan mas hias. Jenis ikan mas konsumsi, antara lain ras punten, ras sinyonya atau putri yogya, ras yogya, ras taiwan, ras merah, ras majalaya, ras yamato, dan ras lokal, Jenis ikan mas hias antara lain ras kumpay, ras kancra domas, ras kaca, ras fancy ( koi lokal ), dan ras koi ( koi Jepang ).

Ikan mas menyukai habitat perairan tawar yang tidak terlalu dalam dan mengalir tidak terlalu deras, seperti di pinggiran sungai atau danau. Ikan mas hidup dengan baik di ketinggian 150-600 meter di atas permukaan air laut ( dpl ) dengan suhu air 30 C. Ikan mas juga ada yang ditemukan di perairan payau atau muara sungai ( salinitas mencapai 25%-30% ). Tergolong ikan omnivora ( pemakan berbagai jenis makanan ) dengan makanan utamanya berupa Flora dan Fauna dasar atau tepi perairan, menyukai binatang renik ( Fitoplankton dan Zooplankton ), serta cacing-cacingan. Jika dibudidayakan sangat responsif terhadap pakan buatan berupa pelet.

Ikan mas memijah secara alami di alam pada awal musim hujan, saat muncul rangsangan dari aroma tanah kering yang tergenang air. Pemijahan terjadi pada tengah malam sampai menjelang pagi hari. Sebelum memijah, induk betina aktif mencari tempat yang rimbun dengan tanaman air atau rerumputan untuk menempelkan telurnya agar dapat dibuahi sperma pejantan. Jika dipijahkan di kolam, perlu disediakan substrat sebagai tempat menempelkan telur berupa kakaban berbahan ijuk.

A. Teknologi Pembeihan.

Ikan mas merupakan salah satu komoditas perikanan air tawar yang mengalami perkembangan usaha pembenihan yang sangat baik. Teknologi pembenihan ikan ini sudah berkembang sedemikian rupa. Saat ini, di kalangan pembenihan ikan di Indonesia di kenal dua macam sistem pembenihan untuk ikan mas, yaitu pembenihan tradisional dan pembenihan intesif. Sistem pembenihan tradisional adalah teknik pembenihan yang pemijahannya menggunakan cara yang biasa dipakai petani/pembudidaya tradisional yaitu secara alami. Sementara sistem pembenihan intensif, menggunakan teknik pemijahan buatan secara hormonal ( menggunakan ekstrak kelenjar hipofisis atau hormon HCG Ovarium ). Dengan teknik tersebut, pemijahan ikan mas dapat dilakukan sepanjang tahun dan tidak tergantung pada musim.

B. Pemilihan Induk.

Pemilihan induk yang baik dan matang gonad merupakan guna keberhasilan pemijahan ikan mas. Dlam memilih induk jantan dan betina yang unggul dan sudah matang gonad sebaiknya memperhatikan beberapa krateria berikut :

  • Induk betina umur 1,5-2 tahun dengan berat 2kg/ekor. Induk jantan umur 8 bulan dengan berat 0,5kg/ekor.
  • Secara keseluruhan, bentuk tubuh mulai dari mulut sampai ujung sirip ekor mulus, sehat, dan sirip tidak cacat.
  • Tututp insang normal tidak tebal dan jika dibuka tidak terdapat bercak putih ; panjang kepala minimal 1/3 panjang badan ; lensa mata tampak jernih.
  • Sisik tersusun rapi, cerah, tidak kusam.
  • Pangkal ekor kuat dan normal dengan panjang pangkal ekor harus lebih panjang dibandingkan dengan lebar/tebal ekor.

Sedangkan untuk mengetahui ciri-ciri induk jantan dan betina :

Betina :

  • Badan bagian perut besar, buncit, dan lembek.
  • Gerakan lambat, pada malam hari biasanya loncat-loncat.
  • Jika perut di-striping, akan keluar cairan berwarna kuning atau butiran telur.

Jantan :

  • Badan tampak langsing.
  • Gerakan lincah dan gesit.
  • Jika perut di-striping, akan keluar cairan sperma berwarna putih.

Poin-poin yang perlu diperhatikan dalam melakukan pemijahan ikan mas :

  • Dasar kolam tidak berlumpur, tidak bercadas atau berbatu.
  • Air tidak terlalu keruh, kadar oksigen dalam air cukup, debit air cukup, dan suhu air berkisar 25 C.
  • Diperlukan bahan penempel telur, seperti ijuk atau tanaman air.
  • Jumlah nduk yang disebar tergantung pada luas kolam, sebagai patokan, seekor induk berat 1kg memerlukan kolam seluar 5 meter persegi.
  • Pemberian makanan dengan kandungan protein 25%. Untuk pelek diberikan secara teratur 2 kali sehari ( pagi dan sore hari ) dengan takaran 2%-4% dari jumlah berat induk ikan.

C. Teknik Pemijahan.

1.Pemijahan Sistem Tradisional.

Di kalangan pembudidaya, ada beberapa cara pemijahan sistem tradisional, yaitu cara sunda, cara cimindi, cara rancapaku, cara sumatra, cara dubish, dan cara hofer. Pada pemijahan tradisional ini, induk melakukan pemijahan secara alami. Berikut rinciannya :

Cara Sunda :

  • Luas kolam pemijahan 25-30 m, dasar kolam sedikit berlumpur, kolam dikeringkan lalu diisi air pada pagi hari.
  • Induk dimasukkan pada sore hari.
  • Disediakan ijuk untuk menempelkan telur.
  • Setelah proses pemijahan selesai, ijuk yang sudah ditempeli telur dipindahkan ke kolam penetasan.

Cara Cimindi :

  • Luas kolam pemijahan 25-30 m, dasar kolam sedikit berlumpur, kolam dikeringkan lalu diisi air pada pagi hari.
  • Induk dimasukkan pada sore hari.
  • Pada pemijahan cara cimindi, kolam pemijahan berfungsi juga sebagai kolam penetasan.
  • Disediakan ijuk untuk menempelkan telur berupa kakaban ( ijuk dijepit bambu ) dan diletakkan di pojok kolam.
  • Setelah proses pemijahan selesai, induk dipindahkan ke kolam lain.
  • Tujuh hari setelah pemijahan kakaban diangkat.
  • Sekitar 2-3 minggu setelah itu, benih hasil pemijahan dipanen.

Cara Rancapaku :

  • Luas kolam pemijahan 25-30 m, dasar kolam sedikit berlumpur, kolm dikeringkan lali diisi air pada pagi hari.
  • Induk dimasukkan pada sore hari.
  • Pada pemijahan merupakan kolam penetasan, pematangan terbuat dari batu.
  • Disediakan rumput kering untuk menempelkan telur, rumput di sebar merata di seluruh permukaan air kolam dan dibatasi pematang dari tanah.
  • Setelah pemijhan selesai, induk tetap berada di kolam pemijahan.
  • Setelah benih ikan kuat, benih akan berpindah tempat melalui sela bebatuan dengan sendirinya, setelah 3 minggu benih dapat dipanen.

Cara Sumatra ( Magek ) :

  • Luas kolam pemijahan 5 m, dasar kolam sedikit berlumpur, kolam dikeringkan lalu diisi air pada pagi hari.
  • Induk dimasukkan pada sore hari.
  • Kolam pemijahan merupakan kolam penetasan.
  • Disediakan ijuk untuk menempelkan telur, ijuk ditebar dipermukaan air.
  • Setelah pemijahan selesai, induk dipindahkan ke kolam lain.
  • Setelah benih berumur 5 hari, benih dapat dipindahkan ke kolam pendederan.

Cara Dubish :

  • Luas kolam pemijahan 25-50 m, dibuat parit keliling dengan lebar 60 cm dan dalam 35 cm, kolam dikeringkan lalu diisi air pada pagi hari.
  • Induk dimasukkan pada sore hari, kolam pemijahan merupakan kolam penetasan.
  • Sebagai media penempel telur digunakan tanaman hidup, seperti eceng gondok atau bisa juga Cynodon dactylon setinggi 40 cm.
  • Setelah proses pemijahan selesai, induk dipindahkan ke kolam lain.
  • Setelah benih berumur 5 hri, benih dapat dipindahkan ke kolam pendederan.

Cara Hofer :

Cara Hofer sama seperti cara Dubish, namun tidak ada parit, dan tanaman air sebagai tempat menempelnya telur dipasang di depan pintu pemasukan air.

2.Pemijahan Sistem Intensif

Pemijahan ikan mas secara intensif dapat dilakukan dengan 2 cara, yaitu cara alami dan cara buatan, yakni dengan teknik hipofisasi. Jumlah induk ikan mas yang dibutuhkan dalam satu unit pembenihan secara intensif untuk jangka pendek adalah sekitar 50 ekor, sedangkan untuk budidaya jangka panjang dibutuhkan induk sebanyak 500 ekor.

A. Pemijahan Secara Alami.

Pemijahan intensif secara alami pada ikan mas merupakan perbaikan cara tradisional. Pemijahan intensif secara alami ini menggunakan jumlah induk yang lebih banyak dari pada jumlah induk pada cara tradisional. Pemijahan dilakukan di kolam pemijahan, dan umumnya menggunakan hapa. Sebelum pemijahan berlangsung, kolam dikeringkan terlebih dahulu selama kira-kira 3 hari. Perlu disiapkan pula kakaban sebagai tempat ikan menempelkan telurnya. Kakaban bisa dibuat dari ijuk yang dijepit 2 bilah bambu dengan ukuran panjang 1,5 m dan lebar 0,4 m. Jika ijuk sulit diperoleh, dapat juga digunakan rumput-rumputan. Kakaban atau rumput-rumputan dipasang di dalam hapa pada kolam pemijahan setelah induk jantan dan betina dimasukkan ke dalam hapa yang terbuat dari kain trikol atau nilon tersebut. Jumlah kakaban yang diperlukan untuk setiap kilogram induk adalah 5-7 kakaban.

Volume kolam pemijahan yang digunakan adalah 3x5x1 m3. Kolam seukuran itu dapat diisi 3 buah hapa berukuran 1x1x1 m3 atau 1x2x1 m3. Induk-induk jantan meupun betina terpilih yang telah matang gonad dimasukkan ke dalam hapa pada sore hari. Perbandingan bobot induk jantan dan betina adalah 1:1. Untuk hapa berukuran 1x2x1 m3, jumlah induk yang dimasukkan adalah 4 kg dengan jumlah kakaban sebanyak 6-8 buah. Pada pagi keesokan harinya, induk yang sudah memijah dapat diangkat dari hapa dan dikembalikan ke kolam induk. Sementara yang belum memijah ditunggu satu malam lagi. Jika sudah 2 hari induk tersebut tetap tidakĀ  memijah, berarti induk tersebut emang tidak mau memijah dan harus dipindahkan ke kolam induk.

B. Pemijahan Secara Hipofisasi

Teknik hipofisasi adalah teknik perangsang pemijahan dengan menyuntikkan ekstrak kelenjar hipofisis ke induk yang akan dipijahkan. Biasanya induk betina yang lebih utama dirangsang, sedangkan induk jantan tidak terlalu memerlukan rangsangan untuk memijah. Pada saat ini, ketika hormon gonadotropin banyak dijual di pasaran dengan erbagai merek, teknik hipofisasi ini dapat dilakukan jika pemijahan secara alami sulit dilakukan. Teknik hipofisasi bertujuan mempercepat pemijahan, memastikan pemijahan berlangsung sehingga resiko induk tidak memijah berkurang, serta merancang pemijahan agar sesuai dengan waktu yang dikehendaki, misalnya pagi, siang atau sore hari. Penyuntikan induk ikan mas dapat dilakukan 1-2 kali sebanyak 1-1,5 dosis. Satu dosis berarti berat ikan donor ( ikan yang diambil kelenjar hipofisisnya ) sama dengan berat ikan yang akan disuntik ( disebut ikan repisien ). Dosis 1,5 artinya 1 kg ikan resipien membutuhkan 1,5 kg ikan donor. Ikan donor yang akan diambil kelenjar hipofisisnya hendaknya sudah matang kelamin. Induk matang kelamin yang sudah disuntik kemudian dimasukkan ke dalam hapa pemijahan yang sudah disiapkan sebagaimana persiapan pada pemijahan secara alami. Pemijahan biasanya terjadi 6-7 jam setelah penyuntikan. Telur lalu ditetaskan dalam hapa dan induk-induk dipindahkan setelah selesai memujah. Selanjutnya, perawatan telur dan larva sama seperti pada pemijahan secara alami.

D. Teknik Penetasan Telur.

Pada pemijahan alami dengan hapa di kolam, kakaban yang sudah penuh ditempeli telur harus tetap berada di kolam pemijahan selama 2-3 hari. Selama waktu tersebut, biasanya telur-telur akan menetas. Setelah telur menetas, kakaban bisa diangkat, sementara larvanya tetap dibiarkan dalam hapa di kolam pemijahan tersebut sampai kuning telur hilang. Setelah 5 hari biasanya larva dapat ditangkap, dan siap ditebar di kolam pemeliharaan larva.

E. Teknik Perawatan Larva.

Telur ikan mas dapat pula ditetaskan dengan menggunakan hapa pada kolam penetasan. Kolam penetasan ini sekaligus berfungsi sebagai kolam pemeliharaan larva. Untuk keperluan tersebut, luas kolam yang digunakan minimal 500 m2. Sebagai persiapan kolam, lakukan pengeringan selama 3-4 hari sampai dasar kolam menjadi retak-retak atau tergantung pada cuaca. Jika ada yang bocor, pematang wajib diperbaiki dan pastikan saluran tengah atau kamalir dapat berfungsi sebagaimana mestinya. Guna menumbuhkan makanan alami yang dibutuhkan oleh larva, kolam sebaiknya dipupuk dengan pupuk organik dan anorganik. Jumlah pupuk yang digunakan disesuaikan dengan tingkat kesuburan suatu perairan. Kotoran ayam misalnya, biasanya digunakan sebanyak 500 gram/m2, TSP dan urea masing-masing 10 gram/m2, dan kapur sebanyak 15 gram/m2. Pupuk dan kapur tersebut dicampur rata kemudian ditebarkan ke seluruh permukaan tanah dasar kolam. Pemupukan dilakukan bersamaan dengan saat pemijahan induk agar pada saat beberapa hari setelah telur menetas, makanan alami yang dibutuhkan oleh larva sudah tersedia di dalam kolam. Kolam yang sudah di pupuk tadi selanjutnya diisi air secara bertahap sampai air mencapai ketinggian 75 cm dari dasar kolam. Benih dipelihara selama 2-3 minggu, dan selama pemeliharaan diberikan makanan tambahan berupa tepung pelet sebanyak 2-3 kali sehari pada pagi dan sore dengan menyebarkannya secara merata di seluruh permukan air kolam.

Setelah benih dipelihara selama 2-3 minggu atau tergantung kebutuhan, maka benih dapat dipanen dengan cara menyurutkan air kolam secara perlahan-lahan sampai air tinggal di kamalir. Pemanenan dilakukan pada saat suhu masih rendah pada pagi hari agar benih tidak mengalami stres. Benih ikan mas akan berkumpul pada bagian yang paling dalam dekat pintu pembuangan, selanjutnya benih ditangkap secara hati-hati dengan menggunakan sair atau ayakan yang halus. Benih dapat di simpan atau ditampung sementara dalam hapa, atau dapat langsung ditebarkan ke kolam pendederan. Namun sebelum ditebar benih diseleksi terlebih dahulu sesuai dengan ukurannya. Usahakan ukuran atau panjang benih yang didederkan sama besar guna menghindari terjadinya persaingan makanan. Apabila induk yang dipijahkan berkualitas baik, benih ikan mas yang dipelihara akan tumbuh baik pula. Berdasarkan pengalaman, dari 1 kg induk betina yang dipijahkan akan diperoleh hasil sebanyak 35.000-40.000 ekor benih.

Itulah informasi Cara Budidaya Ikan Mas yang dapat Om Jun sajikan kepada anda semua dan simak juga Cara Budidaya Ikan lainnya untuk anda pelajari juga ketahui. Om Jun ucapkan banyak terima kasih kepada anda semua yang sudah berkunjung ke website junpancing.co untuk mengatahui Tips Cara Budidaya Ikan dan semoga artikel yang sudah Om Jun buat ini dapat bermanfaat untuk anda semua. Amin

Save

Lihat Juga: