Cara Budidaya Ikan Patin Jambal Lokal September 2017

Tuesday, July 4th, 2017 - Budidaya Ikan

Tips dan Cara Budidaya Ikan Patin Jambal ( Patin Lokal ) – Patin jambal ( Pangasius jambal ) sebelumnya dinamakan Pangasius pangasius atau Pangasius spp. Di pasar internasional disebut Schilbeid catfish. Di Indonesia, selain dinamakan patin jambal juga ada yang menamakannya patin kipar. Patin jambal merupakan ikan asli perairan Indonesia dan belum banyak dibudidayakan. Peluang pasarannya sangat baik karena memilki daging berwarna putih yang disenangi konsumen di pasar luar, seperti orang-orang Eropa dan Amerika Serikat. Ukuran tubunya juga besar. Karena itu, oleh Pemerintah patin jambal diproyeksikan sebagai patin ekspor yang dapat menyaingi patin Pangasius bocourti dari Vietnam yang sudah terlebih dahulu sukses di pasar ekspor. Jumlah telur (fekunditas) patin jambal sangat sedikit sehingga jumlah benih yang dihasilkan pun sedikit.

Habitat alami ikan ini bisa ditemukan di sungai-sungai di Sumatra dan Kalimantan, seperti sungai Musi (Sumatra Selatan, Rokan, Siak, Kampar (ketiganya di riau, Batanghari (Jambi), Sungai Kapuas dan Barito (Kalimantan). Patin jambal selalu bersembunyi di lubang-lubang aktif pada malam hari (nokturnal), dan lebih banyak menetap di dasar perairan (ikan demersal). Mampu mencapai pertumbuhan maksimum dengan panjang tubuh 1,2 m dan bobot lebih dari 20 kg. Termasuk ikan omnivora (pemakan segala), seperti ikan-ikan kecil, cacing, detritus (mikroba pengurai di dasar perairan), serangga, udang-udangan, moluska, dan biji-bijian. Jika dipelihara di kolam budidaya, larva patin jambal dapat diberi pakan alami (zooplankton), seperti Artemia sp, Moina sp, dan Dhapnia sp. Selain itu, bisa juga langsung diberikan pakan buatan, seperti pelet komersial.

A. Teknologi Pembenihan

Selama ini patin jambal umumnya merupakan hasil tangkapan alam. Namun karena berdaging putih dan memiliki tubuh besar, ikan ini sangat diminati di pasar ekspor. Untuk itu, ikan ini kemudian didomestikasi di LOka Riset Pemuliaan dan Teknologi Budidaya Perikanan Air Tawar (LR-PTBAT) Sukamandi untuk dibudidayakan. Pada tahun 1997, untuk pertama kalinya patin jambal dapat dipijahkan secara buatan melalui pemijahan buatan (induce breeding) menggunakan hormon HCG atau Ovaprim. Untuk pemeliharaan benihnya disarankan memanfaatkan sistem resirkulasi air. Pada tahun 2000, Menteri Kelautan dan Perikanan RI melepas patin jambal secara resmi untuk dibudidayakan masyarakat. Di Sumatra, patin jambal dikembangkan secara intensif di Balai Budidaya Air Tawar (BBAT) Sungai Gelam, Jambi.

B. Menyiapkan Calon Induk

Induk patin jambal termasuk mudah beradaptasi dengan lingkungan baru. Pengalaman pembudi daya patin di Sumatra misalnya, patin jambal hasil tangkapan dari alam yang akan dijadikan induk, bisa disimpan sementara dalam karamba apung sebelum dipindahkan ke kolam induk. Kolam induk yang digunakan bisa berupa kolam tanah, kolam tembok, atau kolam beton yang memiliki dasar tanah. Ukuran kolam menyesuaikan kondisi dan situasi lapangan. Kolam yang baik harus memiliki saluran pemasukan, saluran pengeluaran, dan saluran pengurasan air. Dengan demikian, kolam gampang diisi air, dan sewaktu-waktu bisa dikeringkan. Idealnya kolam memiliki ketinggian air minimum 1 m karena induk-induk patin jambal berukuran besar. Penggunaan media kolam cocok untuk lokasi dengan permukaan tanah datar. Tidak hanya itu, penggunaan media kolam bisa mencegah pencemaran air dari luar dan mengandung produktivitas alami yang mampu meningkatkan bobot ikan.

Selain di kolam, induk patin jambal juga bisa dipelihara di karamba berukuran 2×3,5x2m. Karamba bisa diletakkan di sungai, danau, atau waduk. Pemeliharaan induk di karamba yang ditempatkan di sungai sangat dianjurkan karena memberi patin jambal lingkungan yang mendekati kondisi aslinya di alam. Selain itu, sungai memiliki air yang mengalir yang mendukung ketersediaan oksigen tinggi. Padat penebaran induk di karamba adalah 6 kg/m. Selama dipelihara di karamba atau kolam induk, patin jambal diberi pakan berupa pelet komersial yang memiliki kadar protein minimum 28%. Pakan diberikan dua kali sehari, yakni pagi dan sore. Supaya proses pematangan telur berjalan baik, jaga agar ikan jangan sampai stres. Umumnya, stres yang terjadi pada patin super disebabkan oleh kekagetan akibat proses penangkapan, pemindahan, sampling, dan pemberian pakan yang serampangan pada induk.

C. Teknik Pemijahan

Pemijahan patin jambal dilakukan secara buatan karena pemijahan secara alami sulit terjadi di media pemeliharaan. Pemijahan bisa berhasil jika induk dalam kondisi matang gonad. Untuk itu perlu dilakukan seleksi induk.

a. Pemilihan Jenis Kelamin

Secara fisik, ikan patin jambal tidak memperlihatkan karakteristik eksternal yang jelas sehingga tidak mudah membedakan induk patin jantan dan betina, apalagi menentukan tingkat kematangan gonadnya. Namun demikian, ada ciri-ciri khusus yang bisa digunakan untuk membedakan induk jantan dan betina. Adapun ciri-ciri khusus tersebut :

1. Induk Betina

  • Perut membesar ke arah anus.
  • Jika diraba, perut terasa empuk dan halus.
  • Kloaka membengkak dan berwarna merah tua.
  • Kulit pada bagian perut lembek dan tipis.
  • Jika area di sekitar kloaka ditekan, akan keluar beberapa butir telur berbentuk bundar yang besarnya seragam.

2. Induk Jantan

  • Kulit perut lembek dan tipis.
  • Jika bagian perut diurut ke arah anus, akan keluar cairan sperma berwarna putih.
  • Alat kelamin membengkak dan berwarna merah tua.

b. Pemilihan Induk yang Sehat

Induk patin jambal yang akan dipijahkan harus dalam kondisi baik dan sehat. Ciri-ciri induk yang baik dan sehat secara fisik :

  • resisten terhadap penyakit (memiliki daya tahan tubuh yang baik).
  • tidak sedang terinfeksi penyakit atau parasit
  • bebas dari luka akibat benturan, pukulan, goresan, dan sayatan.
  • memiliki sifat pertumbuhan relatif cepat.
  • mudah beradaptasi.
  • responsif terhadap perubahan lingkungan dan makanan.

c. Pemilihan Induk Matang Gonad

Hasil penelitian para ahli perikanan menemukan bahwa puncak matang gonad patin jambal terjadi pada musin hujan, yakni pada bulan September hingga Maret. Sementara itu, penurunan puncak matang gonad terjadi pada musim kemarau, yakni pada bulan Juni hingga Agustus. Selain itu, disimpulkan bahwa tingkat rata-rata fekunditas dan penetasan patin jambal dua kali lebih rendah pada musim kemarau, yakni bulan April hingga Agustus. Dengan demikian, keberhasilan pemijahan patin super akan lebih banyak terjadi pada musim hujan. Untuk mengetahui tingkat kematangan gonad ikan dapat dilakukan cara-cara berikut :

  • Ambil satu ekor induk patin betina, kemudian sedot telurnya menggunakan selang. Caranya, masukkan slang ke dalam kloaka hingga sedalam 3 cm. Setelah itu, ujung slang lainnya disedot menggunakan mulut hingga tampak beberapa butir telur di dalam slang.
  • Telur kemudian ditaruh di cawan, kemudian ditetesi larutan sera. Larutan sera merupakan campuran formalin, alkohol, dan larutan asetid dengan perbandingan 6:3:1. Larutan tersebut berfungsi mengetahui telur yang telah matang. Ciri-ciri telur yang sudah matang adalah berbentuk bulat, warnanya putih kekuning-kuningan, dan inti telur jelas terpisah dari cangkangnya.
  • Gunakan mikroskop atau jika mampu cukup dengan mata telanjang untuk mengamati dan mengukur diameter telur sebagai parameter kematangan gonad.
  • Jika inti telur sudah menepi, berarti induk sudah siap dipijahkan. Atau, jika diameter telur sudah mencapai 1,72 mm, berarti induk betina siap dipijahkan. Jika diameter telur masih kurang dari 1,72 mm, dibutuhkan rangsangan untuk membuat telur berkembang. Caranya dengan menyuntikkan hotmon HCG dengan dosis 500 IU/kg, dan diamati perkembangannya selama 1×48 jam.
  • Untuk induk jantan, penentuan kematangan gonad adalah dengan melihat alat kelamin yang agak menonjol. Jika diurut ke arah genital, akan mengeluarkan cairan berwarna putih susu.

d. Perawatan untuk Siap Pijah

Induk pilihan disimpan di bak atau hapa, antara jantan dan betina di simpan secara terpisah. Induk jantan dan betina pilihan ditimbang beratnya untuk menentukan proporsi jumlah jantan dan betina. Untuk menggunkan sperma yang dikumpilkan dari 6-10 ekor induk jantan diperlukan sel telur yang dikumpulkan dari 2-4 ekor induk betina. Artinya, perbandingan induk jantan dan betina yang digunakan adalah 1:3. Setelah ditimbang, induk-induk pilihan dikembalikan ke karamba atau hapa seperti semuala.

e. Induce Breeding

Induk patin jambal jantan maupun betina tidak akan memijah secara alami di bak, kolam, atau hapa pemijahan, meski keduanya disatukan dalam sebuah wadah. Karena itu, diperlukan rangsangan menggunakan hormon HCG (Human Chorionic Gonadotropin) dan hormon Ovaprim (campuran GnRh dan Domperidone). Penyuntikan untuk induk betina dilakukan dua kali dengan hormon yang berbeda. Penyuntikan pertama menggunakan hormon HCG dengan dosis 500 IU/kg induk betina. Sementara itu, penyuntikan kedua menggunakan hormon ovaprim dengan dosis 0,6 ml/kg induk betina. Selang waktu antara penyuntikan pertama dengan kedua sekitar 6 jam. Sedangkan pada induk jantan, penyuntikan hormon cukup dilakukan sekali bersama dengan penyuntikan kedua pada induk betina. Pada induk jantan hanya disuntikan hormon ovaprim dengan dosis 0,2 ml/kg induk jantan.

Penyuntikan harus dilakukan secara intramuskuler, yakni di dalam daging atau otot, tepatnya dibagian kiri atau kanan belakang sirip punggung. Alasannya, bagian belakang sirip punggung memiliki otot yang cukup tebal sehingga injeksi bisa dilakukan cukup dalam. Dengan demikian, risiko keluarnya cairan hormon melalui lubang injuksi bisa dihindari. Posisi jarum suntik harus membentuk sudut 30 hingga 40. Agar cairan hormon bisa masuk sempurna ke dalam otot, disarankan untuk menunggu beberapa saat (kira-kira 15-20 detik), baru setelah itu jarum injeksi ditarik secara perlahan. Selain itu, saat penyuntikan hormon pastikan di dalam spuit tidak terdapat gelembung udara. Secara umum, waktu ovulasi patin jambal terjadi sekitar 6-12 jam setelah penyuntikan kedua. Namun, waktu ovulasi lebih dipengaruhi diameter telur atau tingkat kematangan gonad yang ditandai dengan perkembangan organ genital, seperti mulai memerah atau mnonjol.

f. Pembuahan

Pembuahan dilakukan secara manual, yakni mencampur sendiri telur-telur induk betina hasil pemijahan buatan dengan sejumlah sperma induk jantan dalam sebuah wadah. Pengambilan sperma induk jantan dilakukan dengan pengurutan ke arah lubang genital. Caranya, induk jantan diambil dari bak pemeliharaan. Setelah itu, sebagian besar urinenya dikeluarkan dari kandung kemih. Kandung kemih ditekan secara lembut dan perlahan ke arah perut persis di depan papila alat kelamin. Lalu, daerah papila dikeringkan dengan tisu untuk mencegah tercampurnya sperma dengan urine ataupun air. Setelah itu, sperma siap di sedot dengan spuit 25 cc yang telah diisi larutan NaCI 0,9% dengan perbandingan 4 cc NaCI dan 1 cc sperma. Setelah sperma berhasil disedot, induk jantan bisa kembali dilepaskan ke wadah pemeliharaan.

Pengeluaran telur induk betina juga dilakukan dengan pengurutan yang disebut stripping. Caranya, induk betina diambil dari dalam wadah pemeliharaan secara hati-hati. Lalu bagian perutnya dikeringkan dengan tisu atau kain yang lembut. Stripping dilakukan dengan mengurut bagian perut ikan secara lembut ke arah papila atau alat kelamin. Jika perut ikan sudah terasa lunak dan terjadi pancaran sel telur setiap kali tekanan tangan dilakukan, berarti pemilihan waktu stripping sudah tepat. Umumnya, jika proses stripping bisa dilakukan dengan mudah dan lancar, mutu sel telur yang dihasilkan cukup bagus. Sebaiknya, jika stripping sulit dilakukan, mutu sel telur yang dihasilkan tidak bagus, yakni kering dan bercampur darah. Munculnya darah menandakan telah terjadi luka dalam pada perut ikan saat penekanan. Gejala tersebut dapat memicu kematian. Setelah itu, telur yang keluar dari induk betina ditampung dalam baskom kecil. Baskom mesti diletakkan di tempat yang terlindung dan jauh dari sumber air. Hindari perendaman sel telur dalam air tawar, apalagi merendam dalam larutan fisiologis, seperti NaCI 0,9%, dengan tujuan pengawetan. Pasalnya, sel telur yang disimpan dalam air tawar maupun larutan fisiologis tidak bisa lagi dibuahi alias telah mati. Berbeda dengan patin siam yang tetap bisa dibuahi, meski diawetkan dengan larutan fisiologis.

Setelah ditampung dalam baskom kecil, telur siap dibuahi. Caranya, sperma dimasukkan ke baskom berisi telur, kemudian campuran sperma dan telur tersebut diaduk menggunakan bulu ayam secara perlahan-lahan selama 3 menit. Untuk meningkatkan derajat pembuahan, sel telur sebaiknya dibagi menjadi kelompok-kelompok kecil, misalnya dalam wadah plastik ukuran 100-200 ml. Setiap 100 ml kelompol sel telur bisa dicampur dengan 5 ml sperma. Setelah sperma dan telur bercampur, tambahkan air tawar secukupnya, lalu diaduk menggunakan bulu ayam secara perlahan selama 3 menit. Penambahan air tawar berfungsi mengaktifkan spermatozoa. Penambahan secara tepat akan mengaktifkan semua spermatozoa secara bersamaan. Setelah itu, telur-telur dicuci dengan air bersih untuk membuang kelebihan spermatozoa dan selanjutnya siap dipindahkan ke tempat penetasan. Hindari getaran mekanis yang berlebihan karena telur-telur patin super sangat peka terhadap getaran mekanis. Getaran mekanis yang berlebihan bisa menyebabkan rendahnya tingkat penetasan telur dan meningkatnya proporsi larva hasil penetasan yang abnormal.

g. Penetasan Telur

Telur patin jambal berbentuk bulat atau sedikit lonjong. Telur ini gampang tenggelam dan lengket setelah terkena air sehingga telur-telur tersebut saling menempel satu dengan lainnya. Karena itu, penetasan sebaiknya dilakuka secara intensif di dalam corong penetasan dengan menggunakan sistem resirkulasi air (air mengalir terus-menerus). Prinsip kerjanya, telur dijaga supaya tetap bergerak dengan menggunakan dorongan sirkulasi air yang dimasukkan melalui pipa PVC pada bagian bawah corong. Keuntungannya, sifat lengket pada telur bisa dihilangkan menggunakan air yang terus-menerus mengalir. Setelag itu, kandungan oksigen juga meningkat sehingga mampu mencegah perkembangan jamur atau cendawan yang bisa merusak telur. Agar daya rekat telur hilang, sebelum dimasukkan ke dalamh corong, telur bisa dicuci dulu dengan larutan tanah merah. Caranya, larutan tanah merah dicampurkan ke dalam telur yang telah di buahi, diaduk perlahan-lahan hingga daya rekat hilang. Setelah itu, telur dicuci denagn air bersih, baru kemudian dimasukkan ke dalam corong penetasan. Sebaiknya corong penetasan disiapkan 1 hari sebelum digunakan agar keberhasilan penetasan lebih terjamin. Langkah-langkah persiapan corong penetasan :

  • Semua wadah pada unit pembenihan patin super, seperti corong penetasan telur, tempat perawatan larva, bak filter air, bak penampungan air bersih, water turn, dicuci bersih dan dikeringkan.
  • Agar terhindar dari kontaminasi jamur atau bakteri, corong-corong penetasan telur bisa direndam dalam larutan Kalium Permanganat (PK) sebanyak 20 ppm atau dengan malachite green sebanyak 5 ppm selama 30 menit.
  • Langkah selanjutnya adalah pengisian air bersih ke semua wadah. Kemudian pompa isap yang berfungsi mengalirkan air dari wadah penampungan air bersih ke water turn dijalankan. Dengan demikian, sirkulasi air akan terjadi di seluruh wadah unit pembenihan.

Setelah itu, telur-telur yang akan ditetaskan disebarkan ke dalam corong menggunakan bulu ayam, sambil air terus dialirkan dengan cara mengatur debit air menggunakan keran. Dengan demikian, telur tidak akan menumpuk di dasar corong, melainkan akan selalu terangkat di dalam corong tersebut. Kepadatan telur sebanyak 500 cc/corong. Lama penetasan telur patin super tergantung pada sushu air. Telur akan lebih cepat menetas dalam air yang hangat dibandingkan dalam air yang suhunya lebih dingin. Di perairan dengan suhu 29 C-30 C, telur mulai menetas sekitar 33-35 jam setelah pembuahan. Namun secara umum, di seluruh perairan Indonesia lama penetasan yang terjadi berkisar antara 29-36 jam (tergantung suhu). Telur tidak menetas secara bersamaan, dibutuhkan waktu hingga 40 jam sehingga semua telur menetas.

Setelah semua telur menetas, di dalam wadah penetasan akan tampak campuran antara benih ikan (larva), sisa-sisa buangan dari penetasan, dan telur-telur busuk yang gagal menetas. Campuran tersebut bisa menyebabkan air di dalam wadah menjadi keruh dan menurun kualitasnya, bahkan bisa menjadi racun bagi larva. Agar hal tersebut tidak terjadi, sisa-sisa telur yang membusuk harus dibuang. Cara lainnya, larva bisa dipindahkan ke tempat lain untuk sementara waktu seperti akuarium dengan sistem air yang mengalir. Atau larva dipindahkan ke tempat perawatan atau pemeliharaan larva untuk seterusnya. Larva yang baru menetas mempunyai panjang 0,4 cm  dan berat rata-rata 2,3 mg. Ukuran tersebut jauh lebih besar ketimbang larva patin siam. Artinya, larva patin jambal mengandung kuning telur ( yolkegg) yang lebih besar pula. Kuning telur berfungsi sebagai cadangan makanan atau makanan utama sebelum larva mampu memakan makanan lain dari alam. Larva baru mulai makan 48 jam setelah menetas.

h. Perawatan Larva

Larva hasil penetasan bisa dipindahkan ke wadah pemeliharaan dengan menyeroknya menggunakan scoop net halus. Umumnya wadah pemeliharaan yang digunakan berupa akuarium, bak fiberglass, atau bak plastik. Wadah tersebut harus memiliki resirkulasi air yang baik. Dalam merawat larva, ada dua masa pemeliharaan, yakni masa pemeliharaan dengan padat tebar 15 ekor/liter air dengan jangka waktu pemeliharaan selama 8 hari, dan masa pemeliharaan selanjutnya dengan padat tebar 5 ekor/liter air. Pada masa yang pertama, pakan yang diberikan berupa artemia dengan frekuensi pemberian 5 kali/ hari, yakni pukul 07.00, 11.00, 15.00, 19.00 dan 23.00. Setelah 8 hari, pakan yang diberikan berupa cacing sutra hidup.

Itulah informasi Cara Budidaya Ikan Patin Jambal ( Patin Lokal ) yang dapat saya sajikan kepada anda semua dan tunggu untuk informasi cara budidaya ikan selanjutnya untuk anda pelajari dan ketahui. Saya ucapkan banyak terima kasih banyak kepada anda semua yang sudah berkunjung ke website junpancing ini untuk mengetahui cara budidaya ikan patin jambal. Sekian informasi dari Om Jun dan semoga artikel tips cara budidaya ikan patin jambal ini dapat bermanfaat untuk anda semua.

Lihat Juga: