Cara Budidaya Ikan Patin Siam ( Jambal Siam ) Agustus 2017

Tuesday, April 25th, 2017 - Budidaya Ikan

Tips dan Cara Budidaya Ikan Patin Siam ( Jambal Siam ) – Ikan patin siam atau lele bangkok memiliki nama ilmiah Periopthalmus Sutchi. Sebelumnya disebut Pangasius Sutchi, lalu berubah menjadi Pangasius Hypothalmus, dan terakhir bernama Periopthalmus Sutchi. Merupakan ikan introduksi yang dimasukkan dari Thailand pada tahun 1972 oleh Lembaga Penelitian Perikanan Darta ( LPPD ) Bogor. Di habitat asalnya, patin siam menghuni sungai, rawa-rawa, dan danau-danau di semenanjung Indocina ( Vietnam, Myanmar, Laos, Kamboja, dan Thailand ). Ukuran tubunya relatif besar dengan daging berwarna merah atau kemerah-merahan, serta menghasilkan telur dalam jumlah banyak ( fekunditas tinggi ). Ukuran patin siam di alam bisa mencapai 1 m.

Patin siam termasuk jenis ikan lele dengan bentuk tubuh memanjang dan pipih serta tidak memiliki sisik alias bertubuh licin. Kepalanya relatif kecil, letak mulut agak kebawah ( Subterminal ), dan memiliki 2 pasang sungut yang berfungsi sebagai alat pencarian makan dan saat berenang. Terdapat garis- garis pita hitam lengkung yang memanjang dari kepala hingga pangkal ekor. Sirip ekornya bercagak dengan tepian berwarna putih. Warna tubuhnya kehitaman dengan perut putih abu – abu. Bagian tengah sirip dubur ikan ini mempunyai garis putih. Di punggungnya terdapat sirip dengan sebuah jari – jari keras yang dapat berubah menjadi patil, sedangkan jari – jari lunaknya berjumlah 6 -7 buah. Bentuk sirip ekornya simetris bercagak. Di sirip dadanya terdapat 12 -13 jari – jari lunak dan satu buah jari – jari keras yang berfungsi sebagai patil. Sirip duburnya panjang, terdiri atas 30 – 33 jari – jari lunak. Sementara itu, di sirip perutnya terdapat 6 jari – jari lunak. Ikan ini selalu bersembunyi di dalam lubang – lubang dan aktif pada malam hari ( nokturnal ). Patim siam juga lebih banyak menetap di dasar perairan ( ikan demersial ), dan digolongkan sebagai omnivora ( pemakan segala ) yang memakan ikan -ikan kecil, cacing, detritus ( mikroba pengurai di dasar perairan ), serangga, udang – udangan, moluska, dan biji – bijian.

Teknologi Pembenihan.

Ikan patin siam termasuk salah satu jenis ikan yang sulit dipijahkan secara alami karena untuk menciptakan atau memanipulasi lingkungan yang sesuai dengan habitat aslinya di alam cukup sulit. Karena itu, pemijahan ikan patin dilakukan secara buatan dengan rangsangan kelenjar hipofisis atau ovaprim. Teknologi pemijahan intensif ikan patin siam ini sudah berkembang di masyarakat secara luas.

Penyiapan Induk.

Induk merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan dalam usaha pembenihan ikan patin siam. Induk yang baik dan sehat tentu akan menghasilkan benih yang baik pula. Induk yang akan dipijahkan dapat berasal dari kolam induk sendiri atau dibeli dari tempat lain. Untuk mendapatkan induk patin yang sehat, selama pemeliharaan di kolam induk perlu diberi makanan yang cukup mengandung protein. Berdasarkan hasil penelitian, komposisi makanan untuk patin terdiri atas 35% tepung ikan, 30% dedak halus, 25% menir beras, 10% tepung kedelai, dan vitamin serta mineral sebanyak 0,5%. Campuran bahan makanan tersebut dibuat menjadi pasta dan diberikan sebanyak 15% dari bobot induk per hari pada pagi dan sore, lima hari dalam seminggu. Untuk mempercepat kematangan gonad, dua kali seminggu induk perlu diberi ikan rucah atau ikan – ikan yang tidak layak dikonsumsi manusia sebanyak 10% dari bobot induk yang dipelihara.

A. Seleksi Induk Matang Gonad.

Induk patin yang akan dipijahkan diseleksi terlebih dahulu, yaitu dipilih induk – induk yang matang gonad atau siap pijah. Penangkapan induk dilakukan dengan mengurangi volume air kolam sampai mencapai ketinggian 20 cm dari dasar kolam. Penangkapan induk sebaiknya dilakukan secara hari – hari agar tidak stres. Penangkapan dapat dilakukan dengan dua cara, dengan menggunakan jaring atau menggunakan tangan. Adapun ciri – ciri induk patin yang telah matang gonad :

Induk Patin Betina

  • Umur 3 tahun.
  • Berat minimal 1,5 – 2 kg per ekor.
  • Perut membesar ke arah anus.
  • Jika diraba perut terasa empuk dan halus.
  • Kloaka membengkak dan berwarna merah tua.
  • Kulit pada bagian perut lembek dan tipis.
  • Jika bagian di sekitar kloaka ditekan, akan keluar beberapa butir telur berbentuk bundar yang besarnya seragam.

Induk Patin Jantan

  • Umur minimal 2 tahun.
  • Berat 1,5 – 2 kg per ekor.
  • Kulit perut lembek dan tipis.
  • Jika perut diurut ke arah anus, akan keluar cairan sperma berwarna putih.
  • Alat kelamin membengkak dan berwarna merah tua.

Selain ciri – ciri tersebut, induk ikan patin yang akan dipijahkan harus sehat secara fisik, yaitu tidak terinfeksi penyakit, parasit atau terluka akibat benturan, pukulan, goresan, sayatan, dan lain – lain. Induk yang baik juga herus memiliki sifat pertumbuhan relatif cepat, resisten terhadap penyakit, tetapi toleran atau mudah beradaptasi dan responsif terhadap perubahan lingkungan dan makanan.

B. Seleksi Kematangan Telur.

Seleksi induk patin siam tidak hanya dilakukan atau dilihat pada bagian luar fisiknya karena yang paling menentukan berhasil tidaknya pemijahan adalah tingkat kematangan telur. Telur yang sudah matang dapat dicek dengan cara berikut :

  • Ambil satu ekor induk patin betina, kemudian sedot telurnya menggunakan slang kateter dengan memasukkannya ke dalam kloaka sedalam 3 cm. Setelah itu, sedot ujung slang lainnya dengan mulut hingga tampak beberapa butir telur di dalam slang.
  • Simpan telur dalam slang tadi di cawan, kemudian tetesi dengan larutan sera ( campuran formalin, alkohol, dan larutan asetid dengan perbandingan 6:3:1 ). Larutan sera tersebut berfungsi mengindentifikasi telur yang telah matang. Ciri – ciri telur yang matang akan terlihat bulat, berwarna putih kekuning – kuningan, dan inti telur terlihat jelas terpisah dari cangkangnya.
  • Induk – induk patin yang telah matang telur disimpan dalam bak atau hapa, jantan dan betina disimpan tepisah.

Teknik Induced Breding/Kawin Suntik.

Tingkat keberhasilan pemijahan sistem kawin suntik pada ikan patin siam sangat dipengaruhi tingkat kematangan gonad induk. Faktor lainnya yang juga cukup berpengaruh adalah kualitas air, penyediaan makanan yang berkualitas dan mencukupi, serta kecermatan dalam penanganan/pelaksanaan penyuntikan. Induced breeding dapat dilakukan dengan menggunakan kelenjar hipofisis yang berasal dari ikan lain seperti ikan mas, atau menggunakan ovaprim.

A. Menggunakan kelenjar hipofisis dari ikan mas.

Urutan pekerjaan yang dilakukan jika pembenih menggunakan kelenjar hipofisis :

  • Siapkan ikan donor atau ikan yang akan diambil kelenjar hipofisisnya jika induk patin yang akan disuntik beratnya 3 kg dan induk jantan 3 kg berarti berat donor ikan mas untuk induk betina adalah 9 kg dan induk jantan 6 kg.
  • Ikan mas yang akan diambil kelenjar hipofisisnya dipotong tegak lurus atau vertikal di bagian belakang tutup insang.
  • Potongan kepala diletakkan dengan posisi mulut menghadap ke atas, kemudian dipotong vertikal mulai dari permukaan sedikit di atas mulut sehingga akan tampak organ otak yang dilingkupi lendir/lemak.
  • Otak diangkat dan lendir dibuang atau dibersihkan dengan kapas atau tisu.
  • Setelah lendir bersih, maka akan tampak butiran putih seperti beras itulah kelenjar hopifisis yang dibutuhkan.
  • Kelenjar hipofisis diambil dengan menggunakan pinset dan dihancurkan menggunakan gelas penggerus sampai halus. Untuk memudahkan penyuntikan, kelenjar hipofisis tadi perlu ditambahkan akuabides sebanyak 2,5 ml. Agar larutan tersebut benar – benar hancur dan tercampur, gunakan mesin sentrifuga atau pemusing.
  • Selanjutnya larutan kelenjar hipofisis diambil atau disedot dengan menggunakan alat suntik ( injection ).
  • Penyuntikan dapat dilakukan secara intramuskuler di belakang pangkal sirip punggung dengan menggunakan jarum suntik berukuran 0,12 mm.

B. Menggunakan Ovaprim.

Urutan pekerjaan yang dilakukan jika pembenih menggunakan ovaprim :

  • Untuk mengetahui jumlah ovaprim yang akan digunakan, maka induk betina maupun jantan yang akan dipijahkan ditimbang terlebih dahulu.
  • Dosis penyuntikan induk betina berbeda dengan induk jantan. Untuk induk jantan diperlukan ovaprim sebanyak 0,3 ml/kg induk dan induk betina sebanyak 0,5 – 0,9 ml/kg induk.
  • Penyuntikan induk betina dilakukan dua kali. Suntikan pertama menggunakan 1/3 dari total dosis, dan suntikan kedua sebanyak 2/3 dosis yang diberikan 8 – 10 jam setelah penyuntikan pertama.
  • Penyuntikan induk jantan dilakukan sekali bersama dengan penyuntikan kedua induk betina.
  • Untuk menghindari induk berontak yang dapat menyebabkan telur keluar pada saat penyuntikan, penyuntikan sebaiknya dilakukan oleh dua orang. Satu orang bertugas memegang jarum dan menyuntikan, dan seorang lagi bertugas memegang ikan patin yang akan disuntik.
  • Penyuntikan dilakukan secara intramuskuler di belakang sirip punggung dengan memasukkan jarum sedalam 2 cm dengan kemiringan 45 derajat.
  • Induk – induk patin yang telah disuntik, selanjutnya disimpan di dalam bak/hapa dengan air yang mengalir.

Stripping dan Pembuahan.

Ovulasi adalah puncak kematangan gonad, saat telur yang telah masak harus dikeluarkan denagn cara dipijit pada bagian perut ( stripping ). Adapun urutan pekerjaan stripping :

  • Sediakan wadah kering berupa baskom plastik yang telah dibersihkan untuk menampung telur.
  • Induk betina yang akan di-stripping dipegang dengan kedua tangan, tangan kiri memegang pangkal ekor dan tangan kanan memegang perut bagian bawah. Sedangkan ujung kepala induk patin dipotongkan pada pangkal paha. Selanjutnya perut diurut secara perlahan dari depan ke belakang menggunakan jari tengah dan jempol, selanjutnya telur – telur yang keluar ditampung dalam baskom.
  • Induk jantan ditangkap untuk diambil spermanya yang akan dicampurkan dengan telur – telur di dalam baskom.
  • Pengurutan induk jantan pada prinsipnya sama saja dengan pengurutan induk betina. Sperma yang keluar dari perut induk jantan langsung disatukan dengan telur yang telah ditampung di dalam baskom.
  • Agar telur dan sperma tercampur sempurna sehingga bisa terjadi pembuahan, perlu dilakukan pengadukan dengan menggunakan bulu ayam selama 0,5 menit. Pengadukan di lakukan secara berputar dan perlahan – lahan di dalam baskom.
  • Untuk meningkatkan fertilisasi ( pembuahan ), campuran telur dan sperma tadi dapat ditambahkan garam dapur sebanyak 4.000 ppm atau garam fisiologis atau Nacl 0,9% sambil diaduk dan diberi tambahan air sedikit demi sedikit. Pengadukan dilakukan selama 2 menit.
  • Untuk membuang kotoran berupa lendir, perlu dilakukan penggantian air bersih sebanyak 2 -3 kali. Sedangkan untuk menghindari terjadinya penggumpalan pada telur, perlu dilakukan pencucian dengan menggunakan larutan lumpur. Lumpur berfungsi untuk membersihkan lendir – lendir yang menempel pada telur dan menjaga telur supaya tidak lengket. Lumpur yang digunakan berupa lumpur/tanah dasar kolam atau tanah tegalan yang telah dipanaskan terlebih dahulu pada suhu 100 C guna menghilangkan bibit penyakit.
  • Telur – telur yang dibuahi akan mengalami pengembangan. Ukuran telur terlihat lebih besar dan berwarna kuning penuh. Sedangkan telur – telur yang tidak dibuahi akan berwarna putih dan mengendap di bawah.

Proses Penetasan Telur.

Wadah penetasan telur yang digunakan berupa corong – corong penetasan. Untuk menjamin keberhasilan penetasan, corong penetasan harus dipersiapkan satu hari sebelum pemijahan. Berikut langkah – langkah persiapan wadah penetasan telur :

  • Semua wadah yang terdapat pada unit pembenihan patin, seperti corong penetasan telur, tempat perawatan larva, bak filter air, bak penampungan air bersih, water turn, dicuci bersih dan dikeringkan.
  • Untuk menghindari kontaminasi jamur atau bakteri, corong – corong penetasan telur dapat pula direndam dalam larutan PK ( Kalium Permangat ) semangat 20 ppm atau dengan malachite green sebanyak 5 ppm selama 30 menit.
  • Setelah semua wadah selesai disiapkan, langkah selanjutnya adalah pengisian air bersih ke semua wadah. Kemudian pompa isap yang berfungsi mengalirkan air dari wadah penampungan air bersih ke water turn dijalankan sehingga terjadi sirkulasi air di seluruh wadah pada unit pembenihan patin.
  • Telur – telur ikan patin kemudian diteteskan di dalam corong penetesan dengan terlebih dulu disebarkan menggunakan bulu ayam, serta diberikan aliran air dengan cara mengatur debit air yang keluar dari keran. Dengan demikian, telur tidak menjadi busuk akibat menumpuk di dasar corong. Kedapatan telur yang ideal adalah 200.000 – 300.000 butir per corong. Telur yang dibuahi akan berkembang sedikit demi sedikit dan menetas menjadi larva.

Penampungan Larva Sementara.

Benih pating yang baru menetas yang dikenal dengan sebutan larva ditampung sementara pada tempat penampungan larva. Tempat penampungan larva ini berupa kain hapa ( trilin ) yang dipasang di dalam bak penampungan larva. Hal tersebut untuk memudahkan pemanenan larva pada saat akan dipindahkan ke tempat pemeliharaan. Benih – benih larva yang baru berumur 1 hari yang tebawa oleh arus air dari corong penetasan diambil atau dipanen dengan menggunakan scoop net halus secara hati – hati. Agar benih – benih ikan patin tidak stres, kualitas air pada tempat penampungan larva dengan tempat pemeliharaan harus mendekati sama, khususnya suhu/temperaturnya.

Pemeliharaan Benih.

Larva yang baru menetas belumlah sempurna, tetapi benih tersebut masih memiliki cadangan makanan di dalam tubuhnya berupa kuning telur ( yolk sack ). Kelangsungan hidup benih sangat ditentukan oleh kandungan kuning telur itu serta kualitas air dalam tempat pemeliharaan benih. Selama di tempat pemeliharaan benih setelah dari tempat penampungan sementara benih – benih ikan patin akan berenang aktif secara vertikal menuju permukaan air. Tempat pemeliharaan benih dapat berupa akuarium, bak terpal plastik atau fiberglass. Sebelumnya akuarium, bak terpal plastik atau fiberglass yang akan digunakan dibersihkan dan dikeringkan untuk menghindari bibit penyakit. Setiap wadah yang akan digunakan diisi air bersih serta diberi aerasi guna menambah kandungan oksigen terlarut dalam air. Pengisian air dilakukan 1 -2 hari sebelum penebaran benih. Dalam setiap akuarium berukuran 60 x 45 x 30 cm3 dapat dipelihara 20.000 ekor benih. Apabila ada pembeli yang membutuhkan benih – benih ikan patin tersebut dapat dijual langsung untuk dipelihara/didederkan di tempay lain.

Benih ikan patin dipelihara di tempat pemeliharaan benih selama 3 – 4 minggu. Selama pemeliharaan mulai dari hari pertama sampai hari ke 10, benih ikan patin diberi makanan tambahan berupa artemia yang telah ditetaskan di tempat terpisah. Adapun pemberian makanan dilakukan setiap 3 – 4 jam sekali. Setelah hari ke 10 benih ikan patin dapat diberi makanan berupa kutu air ( Daphnia sp ), jentik nyamuk, atau cacing sutera. Jumlah makanan yang diberikan disesuaikan dengan kebutuhan benih. Usahakan jangan sampai ada makanan yang tersisa guna menghindari penurunan kualitas air yang dapat menyebabkan kematian benih ikan. Selama pemeliharaan, penggantian air bersih dilakukan 1 – 2 hari sekali atau tergantung kebutuhan. Penggantian air harus dikerjakan secara hati – hati dengan cara menyipon atau membuang kotoran yang berada di dasar wadah pemeliharaan dengan menggunakan selang kecil. Penambahan air bersih dilakukan secara bertahap sedikit demi sedikit, sampai posisi air mendekati ketinggian semula guna menghindari stres pada benih yang dipelihara.

Itulah informasi untuk Cara Budidaya Ikan Patin Siam ( Jambal Siam ) yang dapat saya sampaikan kepada anda semua dan simak juga Cara Budidaya Ikan yang lainnya untuk anda ketahui. Saya ucapkan banyak terima kasih kepada anda semua yang sudah berkunjung ke website junpancing.co untuk mempelajari bagaimana cara membudidayakan ikan dan mengetahui harga alat pancing paling terupdate 2017. Semoga artikel yang sudah saya buat ini dapat bermanfaat untuk anda semua.

Kata Kunci Pencarian:

tempat jual telur ikan sapu sapu, jual cacing laut di padang, cara agar fb lite keluar ular, tempat penjual kodok umpan di palembang, spot mancing ikan wader /nilem di Bojonegoro, alat untuk ngambil lumut, jual lumut daerah ciledug, pembeli sirip hiu, cara buat umpan lele serbu dari daging biawak, tempat jualan telur ikan sapu